Rabu, 06 November 2013

NGELMUNE ATI



 Kitab ini sekitar tahun 1997 saya temukan di pogo (tempat untuk menyimpan barang yang sudah tidak terpakai) di atas dapur rumah Bude saya di desa Patokpicis, bersamaan dengan kitab-kitab lain yang dimasukkan ke dalam karung. Memang sebelumnya saya berniat mencari kitab-kitab peninggalan kakek saya, siapa tahu ada yang masih bisa saya baca. Dari sekian kitab-kitab yang ada, satu ini yang menarik perhatian saya. Kitab-kitab lain masih banyak yang bisa ditemukan di toko-toko kitab, tetapi yang satu ini saya yakin sudah tidak ada stocknya di toko kitab manapun.
Kitab ini terdiri dari tiga bagian, bagian pertama berjudul Idhoh Asrari Ulum al-Muqarrabin (Penjelasan tentang Rahasia Ilmu Orang yang dekat kepada Allah) ditulis oleh Syekh Muhammad ibn Abdillah ibnu Syekh al-Idrus Ba Alwi. Isinya tentang ajaran tasawuf khususnya yang berkenaan dengan gerak-gerik hati sesuai dengan pengalaman spiritual penulisnya.
Bagian kedua berjudul al-Kibrit al-Ahmar (Belerang Merah) ditulis oleh al-Arif Billah Syekh al-Habib Abdullah ibnu Abi Bakr al-Idrus yang berisi tentang ajaran tasawuf khususnya yang berkenaan dengan Maqamat dan Ahwal.
Sedangkan bagian yang ketiga berjudul Ghayatul Qurab fi syarhi Nihayah al-Thalab (Tujuan Kedekatan mengenai Penjelasan Akhir Pencarian) yang ditulis oleh Waliyyullah al-Syarif al-Habib Muhyiddin Abdul Qodir ibnu Syekh al-Idrus yang berisi tentang tata cara wusul kepada Allah.
Dari ketiga bagian itu yang paling menarik bagi saya adalah yang pertama, karena terlihat dari paparannya betul-betul merupakan pengalaman spiritual dari penulisnya atau sering disebut dengan al-Ilmu fi al-Sudur (Ilmu yang ada di dalam hati). Sedangkan dua bagian lainnya lebih merupakan al-Ilmu fi al-Sutur (Ilmu yang ada di dalam tulisan) yang bisa ditemukan di literatur kebanyakan. Lebih istimewa lagi, di bagian pertama itu banyak terdapat jawaban-jawaban dari apa yang menjadi pertanyaan-pertanyaan saya selama ini.
Kondisi dari kitab ini rusak parah, pinggir halamannya sudah banyak yang remuk, sehingga beberapa hari yang lalu kitab ini saya fotokopi jadi empat dan saya beri cover hijau tua dan merah tua dengan tulisan judul berwarna emas.

Minggu, 27 Oktober 2013

KITAB PENCERAHAN





Di dalam kehidupan, manusia bijak lebih membutuhkan kebahagiaan daripada kesenangan. Kebahagiaan, menurut para filosof, dapat diperoleh jika seseorang mampu melakukan pemaknaan terhadap kehidupannya. Pemaknaan bisa berawal dari pertanyaan-pertanyaan tentang kehidupan yang menuntut jawaban dengan segera. Kualitas pemaknaan hidup tergantung dari kualitas pertanyaan tersebut, dan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan inilah yang kemudian dapat menuntun seseorang kepada pencerahan.

Pencerahan (al-hidāyah) menurut al-Jurjānī adalah jalan yang dilalui oleh seseorang yang bersifat unik dan bisa mengantarkannya sampai pada tujuan. Artinya, seseorang yang mendapat pencerahan adalah seseorang yang punya kemampuan unik untuk bisa memikirkan hal-hal yang tidak bisa dipikirkan oleh orang lain, bisa melihat apa yang tidak bisa dilihat oleh orang lain, bisa mendengar apa yang tidak bisa didengar oleh orang lain, sekaligus mampu memahami apa yang tidak bisa dipahami oleh orang lain, yang kesemuanya nanti akan terwujud dalam bentuk ucapan maupun tulisan.

Berkaitan dengan hal tersebut, kitab berjudul al-Tabaqāt al-Kubrā (Kisah-kisah Agung) yang ditulis oleh al-Imām al-Sha’rānī (w. 973 H) ini mengisahkan sosok-sosok yang telah tercerahkan. Dimana penuturan kisahnya diurutkan berdasarkan abjad pertama dari nama masing-masing. Dimulai dari biografi singkat, proses pencapaian pencerahan sampai dengan wujud hasilnya dalam bentuk ucapan dan karya tulisan yang menginspirasi banyak orang pada masanya maupun pada masa-masa sesudahnya.

Dengan membaca buku ini, kita atau khususnya saya, yang sering merasa sulit mendapat pencerahan dalam kehidupan akibat banyak melakukan kesalahan diharapkan bisa terinspirasi dan terbantu untuk bisa berpikir, melihat, mendengar dan memahami kehidupan sebagaimana yang mereka lakukan dan berhasil mendapatkan kebahagiaan. Wallāhu a’lam bi al-sawāb.

(Patokpicis, 27 Oktober 2013)

Kamis, 10 Oktober 2013

FILOSOFI SYARI'AH

Hukum Islam bukan sekedar norma statis yang mengutamakan kepastian dan ketertiban, melainkan juga norma-norma yang harus mendinamiskan pemikiran dan merekayasa perilaku masyarakat dalam rangka mencapai cita-citanya. Selain itu, untuk mengembangkan pemikiran dan studi hukum Islam dalam kehidupan masyarakat pada masa yang akan datang, di samping studi normatif selama ini, sudah saatnya dan sangat urgen bagi para pakar hukum Islam untuk mempertimbangkan studi dan pemikiran hukum Islam dalam kerangka perubahan sosial atau pendekatan sosio-historis.

Hubungan antara teori hukum dan perubahan sosial merupakan salah satu masalah pokok filsafat hukum. Hukum yang diasumsikan tidak mengalami perubahan ternyata senantiasa menghadapi tantangan berupa perubahan sosial yang menuntut daya suai (adaptability) dari hukum. Seringkali dampak perubahan sosial itu begitu hebat sehingga mempengaruhi konsep-konsep serta pranata-pranata hukum dan dengan demikian memunculkan kebutuhan baru akan sebuah filsafat hukum.

Demikian juga masalah perubahan sosial dan teori hukum, posisinya sangat penting dalam pembahasan filsafat hukum Islam. Hukum Islam yang selama ini dipandang rigid, religius, sakral dan karenanya dianggap abadi bagaimana mungkin bisa menghadapi tantangan perubahan di tengah-tengah masyarakat yang plural, multikultur dan multi etnis seperti kasus Indonesia kalau tidak memasukkan kajian tentang kedua hal tersebut?

Pemikiran itulah yang mengantarkan saya mengenal sebuah buku yang berjudul al-Muwāfaqāt pada tahun 1998. Al-Muwāfaqāt, disamping al-I’tisām, adalah karya monumental dari al-Shātibī (Abū Ishaq al-Shātibī). Sebuah buku yang populer dan cukup akrab di kalangan pengkaji dan pembelajar hukum Islam. Ulama sekaliber Shaykh Muhammad ’Abduhpun menganjurkan para intelektual muslim untuk menjadikan Al-Muwāfaqāt sebagai rujukan untuk memperoleh pemahaman mendalam tentang filsafat hukum Islam. Cendekiawan muslim seperti Muhammad Iqbal sering merujuk kepada konsep al-maslahah dalam buku Al-Muwāfaqāt ketika berbicara tentang hukum Islam. Tokoh pergerakan Islam seperti Abū al-A’lā al-Mawdūdī menyatakan bahwa Al-Muwāfaqāt perlu diterjemahkan ke banyak bahasa demi pemahaman yang mendalam tentang filsafat hukum Islam.

al-Shātibī (w. 1388 M) hidup semasa dengan Ibnu Khaldūn (1332-1406 M) dan merupakan saudara seperguruan. Mereka adalah murid Sharīf al-Tilimsānī yang mengajarkan filsafat dan pemikiran-pemikiran Ibnu Sina dan Ibnu Rushd di Granada, Spanyol. Kalau Ibnu Khaldūn dikenal sebagai penggagas pertama ilmu Sosiologi sebelum Auguste Comte dan menjadi masyhur karena bukunya yang berjudul al-Muqaddimah, maka al-Shātibī menjadi terkemuka dalam bidang filsafat hukum Islam. Ia dikenal karena pemikiran-pemikiran segarnya tentang maqāsid al-sharī’ah dan konsep al-maslahah dalam kitab Al-Muwāfaqāt.   

Dalam buku yang sangat kental dengan model analisis baru yang belum pernah dilakukan oleh para penulis sebelumnya yaitu corak filosofis-teologis ini al-Shātibī mengkaji lima pokok bahasan, yaitu: (1) al-muqaddimah, (2) al-ahkām, (3) al-maqāsid, (4) al-adillah, dan (5) al-ijtihād. Sebagai karya yang bernuansa filosofis-teologis, Al-Muwāfaqāt tidak mudah dicerna. Kesulitan memahaminya bukan karena gaya bahasa dan susunannya yang ternyata cukup gamblang dan sistematis, namun karena buku tersebut mengandung aspek lain di luar usūl al-fiqh. Menurut Muhammad Khālid Mas’ūd, seorang penulis al-Shātibī dari Pakistan, kita tidak hanya perlu memiliki pengetahuan fikih dan usul fikih untuk memahami kandungan Al-Muwāfaqāt, tetapi juga perlu memiliki pengetahuan di bidang teologi (ilmu kalam), filsafat dan tasawufAl-Muwāfaqāt memang tidak hanya murni mengurai tema-tema usul fikih, dalam artian kaidah dan dalilnya, tetapi juga sarat dengan analisa teologis, filosofis dan tasawuf. Tampaknya, penulis bermaksud mengisi kembali pemikiran hukum Islam yang cenderung bersifat teoretis semata, dengan pemahaman filosofis tentang maqāsid al-sharī’ah.

Sejak ketemu pada pandangan pertama, buku ini cukup menggelitik hati karena isinya lain daripada yang lain. Bersyukur saya pernah mengikuti ulasan buku ini dari satu-satunya pakar al-Shātibī di Indonesia yaitu Dr. H. Satria Effendi (alm.). Bahkan saking terkesannya, saya mengikuti kuliah beliau sampai dua kali. Dengan kemampuan bahasa Arab yang pas-pasan dan didukung bacaan-bacaan lain yang mengkaji al-Shātibī saya mulai menekuni pemikiran-pemikirannya.

Hal inilah yang akhirnya mendorong saya memilih vak wajib mengajar Filsafat Hukum Islam. Tulisan-tulisan di jurnal, makalah atau bukupun tidak pernah saya lepaskan dari pemikiran-pemikiran al-Shātibī. Bagi saya al-Shātibī merupakan tokoh yang genius dan inspiratif. Sayapun kemudian terinspirasi untuk menulis sebuah buku tentang filsafat hukum Islam . Tapi sayang, finishing naskah buku yang terinspirasi oleh pemikiran-pemikirannya yang saya beri judul ‘Filosofi Syari’ah’ sampai sekarang belum kelar-kelar karena berbagai macam alasan.


(Patokpicis, 10 Oktober 2013).

Jumat, 10 Februari 2012

JANGAN BERSEDIH, SESUNGGUHNYA ALLAH BERSAMA KITA





Beberapa minggu ini saya merasa sangat jenuh dan bosan. Semua komunikasi saya putus mulai dari internet sampai HP. Memang saya kadang-kadang mengalami kejadian seperti ini. Kalau sudah begitu biasanya saya melakukan kegiatan refreshing dengan cara keluar rumah untuk jalan-jalan.
Tempat-tempat favorit yang biasa saya kunjungi waktu jalan-jalan berada di kota Malang. Salah satunya adalah Pasar Comboran, tempat orang menjual barang bekas atau loakan. Melihat-lihat barang bekas yang aneh-aneh dan menarik bisa menghilangkan kepenatan meskipun saya tidak membelinya. Saya juga sering duduk-duduk di sini bahkan pernah makan dan minum di warung yang berada di lingkungan pasar. Pernah suatu kali saya kepergok tetangga saya waktu duduk-duduk di pasar. Tetangga saya menyapa dengan wajah keheranan. Mungkin dalam benaknya timbuk pertanyaan kok saya bisa berada di sini (ha..ha..ha..aneh kali ya).
Selanjutnya, toko buku seperti Gramedia atau Toga Mas juga sering menjadi sasaran meskipun waktu ke sana saya tidak mesti membeli buku. Melihat-lihat dan memegang buku dapat memberikan efek yang menyegarkan pikiran. Sesekali ke pasar buku bekas di jalan Wilis atau ke Stadion Velodrome di kawasan Sawojajar untuk berjalan-jalan mencari buku dan majalah bekas. Tempatnya yang rindang dan sejuk sungguh menyenangkan. Berkaitan dengan hal ini, teman saya sempat protes, refreshing kok malah ke tempat buku, buku itu justru membuat kepala pusing, menurutnya refreshing itu ya mancing. Saya hanya tergelak saja mendengarnya.
Kemarin saya mencoba pergi ke toko buku dan kitab yang terletak di ujung selatan Jalan Embong Arab. Toko buku dan kitab Bayakub, sebuah toko yang sering saya kunjungi ketika saya masih kuliah di Malang dulu. Di sana saya melihat-lihat dan sesekali mengambil buku dan kitab yang tertata rapi di rak. Mata saya kemudian tertuju pada sebuah kitab dengan desain cover kombinasi antara warna merah, biru dan putih serta ilustrasi sunset di bawah judulnya. Berbeda dengan kitab-kitab lainnya yang berdesain angker, kitab ini tampak ’gaul’ dan eye cathcing. Berjudul Lā Tahzan inna Allāha ma’anā (Janganlah bersedih sesugguhnya Allah bersama kita) kitab ini bersanding dengan kitab karya Dr. Aidh al-Qarni yang berjudul Lā Tahzan (sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan menjadi best seller) dengan desain cover yang hampir sama.
Menyimak judulnya (diambil dari ayat 40 surah al-Tawbah) kitab yang ditulis oleh al-Shaykh ’Irfān al-’Ashshāhassūnah al-Dimashqī ini bertujuan menghibur pembaca yang sedang dirundung kesedihan dan kegelisahan. Kutipan ayat-ayat al-Quran dan hadits-hadits Nabi SAW yang menghibur dan menenangkan jiwa bertebaran di setiap bab. Penulis menjelaskan ayat dan hadits tersebut dengan nuansa perenungan sehingga sangat mengena di hati pembaca. Pada bagian lain juga ada puisi-puisi karangan penulis berkenaan dengan kondisi kejiwaan. Dapat juga kita temukan kisah para ”penjemput hidayah” dari berbagai penjuru dunia bahkan penemuan-penemuan modern berkenaan dengan kebenaran al-Quran dan hadits Nabi SAW. Resep terapi kalbu dari penulis sendiri banyak ditemui dalam kitab ini.
Pada suatu bagian, menurut penulis, hati manusia dibagi menjadi dua. Pertama adalah hati yang hidup sedangkan yang kedua adalah hati yang mati. Nasehat hampir tidak dibutuhkan oleh yang disebut kedua karena kekerasan hatinya. Sedangkan yang pertama atau hati yang hidup sangat membutuhkan nasehat untuk membersihkan dirinya dari perasaan khawatir dan gelisah yang kadang menghinggapi. Hati yang hidup akan merasa gelisah jika ada sesuatu yang asing masuk ke dalamnya. Jika dibiarkan, setan akan masuk ke dalam hati dan terus menyirami perasaan tersebut sehingga lama kelamaan hati akan menjadi sakit dan akhirnya mati. Hawa nafsulah yang akhirnya mengendalikan manusia tersebut jika hati sudah mati (hal. 30).
Di sisi lain, perasaan rindu dan ingin berjumpa dengan Allah dapat menjaga agar hati tetap hidup. Rindu Allah bagaikan angin semilir yang senantiasa menghembus hati manusia yang beriman dan menjaganya dari kesilauan dunia. Cinta Allah tidak akan masuk pada hati seseorang jika di dalam hatinya ada rasa cinta dunia. Sebagaimana seekor unta mustahil dapat masuk ke lubang jarum. Jika Allah mencintai seseorang maka Dia akan mendekatkan orang tersebut pada diriNya, menariknya ke dalam cintaNya, membersihkan ibadahnya, menyibukkan hasratnya denganNya, memenuhi lidahnya dengan dzikir kepadaNya dan senantiasa menggerakkan anggota tubuhnya untuk berkhidmat kepadaNya (hal. 147).
Kitab ini sangat inspiratif bagi orang-orang yang sedang mengalami kegelisahan dan berusaha ingin menyembuhkan diri dari penyakit-penyakit hati. Gaya bahasa Arabnya yang ringan diharapkan bisa menuntun seseorang tahap demi tahap menemukan kebahagiaan sejati dalam naungan al-Quran dan sunnah Nabi. Sangat cocok dibaca pada waktu senggang di sela-sela kesibukan kerja atau belajar. Desainnya yang gaul menambah keren penampilan kita waktu membacanya. Pokoknya gue banget deh, cuma sayang dengan ketebalan 760 halaman kitab ini terasa kurang nyaman untuk dibawa-bawa. Bahkan kalau dibaca di tempat umum dikhawatirkan banyak orang akan menganggap kita ustadz yang sedang mutola’ah untuk mempersiapkan materi pengajian.


Judul buku : Lā Tahzan inna Allāha ma’anā
Penulis : al-Shaykh ’Irfān al-’Ashshāhassūnah al-Dimashqī
Penerbit : Dar al-Fikr
Tahun terbit : 2008 M / 1429 H
Tebal kitab : 760 halaman